Kamis, 23 April 2009

[Edisi 2] ISLAM DAN RADIKALISME

Oleh: Yayan M Royani*
Ada beberapa alasan kenapa orang Islam terjerumus dalam sikap radikal. Pertama, ada beberapa ayat al Quran yang dipakai sebagai rujukan. Seperti contoh “Innadina I’ndallahil Islam” atau”Bal Ahyau Walakinna la Yasyu’run”. Kemudian ayat-ayat itu ditafsirkan secara tekstual. kedua, fanatisme yang timbul dari simbol-simbol keislaman. Meskipun mem-punyai fungsi pemersatu. Tetapi, simbol juga bisa menimbulkan fanatisme. Ketiga, kesalahan fahaman dalam mengambil intisari sejarah. Kebanyakan muslim radikal ter-hanyut dalam romantisme masa penyebaran Islam qurun Rosulullah dan sahabat. Keempat, daya fikir yang sempit dan pragmatis dalam memahami ajaran agama.

Ketika seseorang telah terjerumus dalam sikap tersebut. Maka, untuk membawa kembali kepada pemaham-an yang lebih demokratis akan terasa sulit. Alasan yang mendasar adalah, rasa menjalankan ibadah dan mengabdikan diri kepada Tuhan.
Para pemikir kontemporer selalu berusaha untuk mencari jalan me-ngatasi probem ini. Tetapi selalu mengalami jalan buntu, seakan ada dua kutub yang tidak bisa digabungkan antara tunduk kepada Tuhan atau kufur.
Rasionalitas yang tumbuh di bawah sadar terlanjur membentuk dua opini besar, kalau tidak mengatasnamakan tuhan (berdasarkan wahyu), maka bukan ibadah dan sebaliknya.
Dua opini tersebut berwujud pekerjaan yang diganjar (diberi balasan di akhirat) dan pekerjaan yang sia-sia (hanya untuk dunia saja). Sebenarnya, agama Islam tidak membedakan keduanya, justru menyatukan.
Semua pekerjaan yang dilakukan manusia akan mendapatkan balasan dunia dan akhirat. Sebagaimana hukum kausalitas barang siapa yang menanam pasti akan memetik, dalam al Quran dikatakan, Tuhan tidak akan merubah suatu kaum kecuali mereka berusaha untuk merubah diri mereka sendiri.
Pada dasarnya, Islam adalah agama yang Rohmatan Lilla’lamin. Ajaran tersebut merupakan bentuk eksistensi Islam yang bisa diterima oleh semua kalangan tanpa me-mandang agama ataupun ras, bisa kita lihat dalam al-Quran bentuk khitab “Ya Ayyuhannas” yang merujuk kepada seluruh manusia tanpa perbedaan.
Dengan begitu, tidak ada alasan dalam Islam untuk berbuat radikal, apalagi yang dibarengi dengan tindakan kekerasan. Karena, tidak dapat dipungkiri hal tersebut telah melanggar norma-norma kemanusia-an. Dan tentunya tidak dikehendaki dalam ajaran Islam yang Rahmatan Lila’lamin.
Ketika yang dijadikan landasan radikalisme adalah al Quran ataupun Sunnah, maka tidak ada satu ayatpun yang menyarankan untuk berbuat kekerasan. Ayat-ayat jihad yang men-jadi dalil ligitimasi sesungguhnya masih banyak penafsiran.
Apabila penafsiran tersebut ber-tentangan dengan akal dan rasa kemanusian dalam bentuk sosial, maka penafsirannya telah salah kaprah. karena sesungguhnya Tuhan tidak akan menurunkan wahyu yang bertentangan dengan akal dan kemaslahatan umat manusia.
*Mahasiswa Siyasah Jinayah
Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar